JAJAR – Kekayaan budaya tradisi Tiban yang ada di Desa Jajar, Kecamatan Gandusari, terus menarik perhatian kalangan akademisi. Tepat pada Jumat, 12 Juni 2026, sebanyak empat mahasiswi dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung melakukan kunjungan khusus ke Desa Jajar untuk menggali informasi dan menyusun tulisan mendalam terkait tradisi unik tersebut.
Kedatangan para mahasiswi ini dalam rangka menuntaskan tugas akademik mereka untuk mendokumentasikan serta melestarikan warisan budaya takbenda yang masih terjaga erat di masyarakat setempat.
Kehadiran rombongan mahasiswi UIN Tulungagung ini diterima langsung dengan sangat baik oleh Perwakilan Perangkat Desa Jajar Sdr. Mujianto (Kepala Dusun Krajan), Pemdes Jajar memberikan apresiasi atas kepedulian generasi muda terhadap tradisi lokal.
"Kami sangat mendukung adik-adik mahasiswa yang ingin belajar dan menulis tentang kebudayaan kami. Tradisi Tiban ini adalah bagian dari identitas Desa Jajar yang harus terus dikenalkan kepada khalayak luas," ujar Mujianto.
Guna mendapatkan data yang valid dan filosofi mendalam mengenai ritual cambuk pemanggil hujan tersebut, Sdr. Mujianto kemudian mengantarkan para mahasiswi untuk menemui Sdr. Misyar, yang merupakan sesepuh sekaligus tokoh kunci tradisi Tiban di Desa Jajar.
Di kediaman Sdr. Misyar pada hari yang sama, keempat mahasiswi tersebut melakukan wawancara mendalam mengenai:
Sejarah awal mula munculnya tradisi Tiban di Desa Jajar.
Makna filosofis dan nilai spiritual di balik setiap cambukan pohon aren.
Aturan adat serta bagaimana upaya masyarakat menjaga agar tradisi ini tidak punah digilas zaman.
Melalui kunjungan riset ini, diharapkan hasil tulisan dari para mahasiswi UIN Tulungagung tidak hanya menjadi pemenuhan tugas kuliah semata, melainkan juga menjadi media literasi yang efektif untuk mengenalkan potensi wisata budaya Desa Jajar ke ranah yang lebih luas. (Red)